"WELCOME"

~An angel not always look like an angel~

9 Nov 2011

Makalah Unsur Bentuk Puisi

BAB I
PEMBAHASAN MATERI
 

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang memiliki dua unsur pembentuk, yaitu unsur batin dan unsur fisik. Pembahasan bab ini lebih terfokus pada unsur-unsur fisik puisi atau disebut pula unsur bentuk.
Unsur bentuk puisi antara lain :
1.      Tipografi (bait, baris, perwajahan) adalah pembeda genre puisi, prosa dan drama yang penting. Tiporgafi menonjolkan bentuk visualnya, contohnya larik-larik puisi. Bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

2.      Diksi atau pemilihan kata digunakan penyair untuk membangkitkan imaji pembaca. Diksi berkaitan dengan perbendaharaan kata, urutan kata, dan daya sugesti dari kata-kata.
Imaji sendiri adalah susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
Selain itu, terdapat juga kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji.Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju”: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll.,sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih kata adalah sebagai berikut:
1.      Makna Kias       
Sudah dijelaskan di depan bahwa makna kias dalam karya sastra banyak digunakan. Yang paling banyak menggunakan makna kias adalah puisi. Di samping puisi di depan, berikut ini dikutip dua bait puisi Ali Hasjmi, salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru berjudul "Menyesal".        

Pagiku hilang sudah melayang 
hari mudaku telah pergi
Kini petang datang membayang           
Batang usiaku sudah tinggi      

Aku lalai di hari pagi    
Beta lengah di masa muda        
Kini hidup meracun hati           
miskin ilmu, miskin harta.         

Dalam puisi tersebut makna kias itu cepat dapat dipahami karena diberi jawaban pada baris berikutnya. Kata "pagi" diberi jawaban "muda". Kata "petang" diberi jawaban "batang usiaku sudah tinggi" (tua). Dalam puisi Chairil Anwar berikut makna kias lebih sulit ditafsirkan (dari judul "Aku").      

Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang     
... ...............................   
Luka dan bisa kubawa berlari   
Berlari
Hingga hilang pedih peri (h).    

Pembaca harus menafsirkan makna lugas dari binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Ini dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Karena yang sakit bukan fisik, tetapi jiwanya, maka “luka dan bisa (akan) dibawa berlari. Terus berlari”.

2.      Makna  Lambang          
Dalam puisi, banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda ke hal lain atau benda lain. Ada lambang yang sifatnya lokal, kedaerahan, nasional, tetapi ada juga lambang yang sifatnya universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya bendera adalah lambang identitas negara (universal), danbersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan (universal). Berikut ini dikutip puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi Rendra berjudul "Surat Kepada Bunda Tentang Menantunya".   

. .. ... ... ... ... .. . ... ... ... 
Burung dara jantan yang nakal 
Yang sejak dulu kau piara        
Kini terbang dan telah menemui jodohnya       
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan        
Dan tiada akan pulang  
Buat selama-lamanya    
………………………..

Diri penyair sebagai orang yang setia di lambangkan dengan "burung darajantan". Selanjutnya pada bagian lain puisinya, Rendra menulis:

………………………………. 
Dan sepatu yang berat serta nakal        
Yang dulu biasa menempuh     
Jalan-jalan yang mengkhawatirkan       
Dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara    
Kini telah aku lepaskan 
Dan berganti dengan sandal rumah      
Yang tenteram, jinak dan sederhana    
………………………….

Dalam bait tersebut dinyatakan bahwa jejaka yang belum berumah tangga dilambangkan "sepatu yang berat dan nakal, sedangkan setelah menemukan jodohnya, ia menjadi “sandal rumah yang jinak dan sederhana”        
Lambang warna artinya memberi makna warna untuk mengganti makna lain. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya. Lambang warna dapat kita hayati dalam "Balada Sumilah" karya Rendra berikut ini.    

…………………………….
Tubuhnya lilin tersimpang di beranda  
Tapi halusnya putih pergi kembara       
……………………………
Bulan keramik putih tanpa darah          
Warna jingga adalah mata Samijo        
menatap ia, menatap amat tajamnya.    
Padamkan jingga apimu. Padamkan!    
Demi selaput sutraku putih: padamkan!           

Kata-kata (alusnya putih" berarti rohnya yang suci (karena Sumilah telah mati). Kata ''jingga'' dalam puisi ini menggambarkan kebencian. Dalam puisi ini diceritakan Samijo sangat benci kepada Sumilah, pacarnya, karena ia mengira Sumilah telah mengkhianatinya.
Lambang bunyi artinya makna khusus yang diciptakan oleh bunyi-bunyi atau perpaduan bunyi-bunyi tertentu. Misalnya bunyi seruling yang mendayu-dayu mengingatkan kita akan tanah Pasundan (priangan). Bunyi gamelan membawa kita kepada alam Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu juga bunyi-bunyi khas Bali, Ambon, dan sebagainya akan melambangkan kedaerahan tertentu. Di samping itu vokal, konsonan, dan perpaduan vokal dan konsonan dapat membentuk sifat tertentu dari puisi. Hal ini juga termasuk lambang bunyi. Berikut ini puisi
Ramadhan K.H. yang kental dengan lambang bunyi.  

Seruling di pasir ipis, merdu     
Antara gundukan pohon pina   
Tembang menggema di dua kaki          
Burangrang-Tangkuban Prahu  
Jamrut di pucuk-pucuk 
Jamrut di air tipis menurun       

Kata seruling menunjukan lambang tanah Pasundan dengan bunyi seruling yang meliuk-liuk penuh kedukaan, terlebih dikaitkan dengan gunung Burangrang (legenda lutung kasarung) dan Tangkuban Prahu (legenda Sangkuriang) lebih meyakinkan bahwa puisi ini bersifat duka.           
Lambang suasana artinya peristiwa atau keadaan yang tidak digambarkan apa adanya, tetapi diganti dengan keadaan lain. Misalnya, dalam bait puisi Rendra yang berjudul "Surat Cinta" ini terdapat lambang suasana:          

Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis        
Bagai bunyi tambur mainan      
Anak peri dunia yang gaib        
Dan angin mendesah    
Mengeluh dan mendesah          

Ungkapan "hujan gerimis" di atas melambangkan suasana sedih (duka) penyair karena cintanya kepada gadis pujaannya tidak direstui oleh orang tua gadis itu. Namun cintanya memang luar biasa besarnya, bergema, bergemuruh seperti (tambur mainan anak peri dunia yang gaib" lambang suasana juga pada kata-kata: lintang kemukus (bencana), barata yuda (huru-hara), dan sebagainya.

3.      Gaya bahasa adalah bahasa kiasan yang mengiaskan atau mempersamakan suatu hal dengan hal lainya sehingga gambaran menjadi jelas, menarik dan menjadi hidup. Atau juga bisa disebut sebagai bahasa figuratif yang berarti bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Sebagai contoh spesifiknya adalah pada majas. Jenis-jenis gaya bahasa (majas)Terdapat empat macam jenis kelompok majas yaitu: (1) majas perbandingan, (2) majas penegasan, (3) majas pertentangan, dan (4) majas sindiran. Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk membandingkan, yang termasuk majas ini diantaranya metafora, litotes, hiperbola, alusio, personifikasi dan sebagainya. Majas penegasan adalah gaya bahasa yang betujuan untuk menegaskan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya adalah antiklimaks, anaphora, koreksio, dan sebagainya. Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk mempertentangkan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya paradoks, antithesis, okupasi, dan sebagainya. Majas sindiran adalah gaya bahasa yang bertujan untuk menyindir, yang termasuk majas ini diantaranya ironi, sinisme, dan sarkasme.
Kata kias atau konotasi adalah kata-kata bahasa yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau melewati maknanya yang harfiah, makamelalui penguraian makna konotatif itu kita akan mampu menemukan bentuk-bentuk imaji / citra tertentu yang ada dalam puisi tersebut. Makna konotatif ini dibentuk dengan pemakaian majas (figure of speech), yakni pemakaian kata yang memiliki makna melewati makna denotatif (harfiah).Karena makna konotatif melampaui maknanya yang lazim, maka dalam mengartikan atau memahami sebuah kata dalam puisi bias bermacam-macam.Sesuai dengan tingkat kedalamam pemahaman pembaca dalam menginteprestasikannya.Namun, agar tidak salah dalam menerjemahkan makna yang ada dalam sebuah puisi, anda harus berpegang pada makna konotatif yang berlaku umum.Misalnya kata “bulan purnama” adalah lambang dari keindahan “kerbau” memiliki konotasi kuat tapi bodoh.Dalam puisi, seseorang (anda dan saya) tidak bisa semena-mena menaksirkan makna konotatif dalamsebuah puisi sekehendak hati kita.
Citraan juga termasuk dalam gaya bahasa. Citraan adalah kepuitisan utama yang erat hubungannya dengan diksi.Citraan membuat pembaca atau pendengar menghayati melalui penglihatan, pendengaran, pencecapan, dan perabaan.

4.      Versifikasi (bunyi, persajakan/rima, dan irama)  adalah bunyi yang dipergunakan sebagai orkestrasi, yang mengalirkan perasaan, imaji-imaji dalam pikiran, atau pengalaman-pemgalaman jiwa pembaca atau pendengar.Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata atau ungkapan. Sedangkan irama merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi, irama sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata.Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima.Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

 

CONTOH PUISI
 

MENCARI

Termenung dan termangu
Khayal berpendar tuk berfikir
Mencari pengisi kekosongan hati yang sejati
Kadang gundah tuk dapatkan apa yang ingin dicari

Sesobek sudut di jiwa bertuah dan sadarkan
Walau tak tahu apa yang dirasa
Tetap berjalan dalam tanya
Benarkah… apakah itu Cinta, apakah arti Cinta
                                                            (3@/LR/28'10'10)


 IDENTIFIKASI PUISI


ü  Terdapat majas personifikasi yang termasuk dalam kelompok majas perbandingan.
ü  Rima yang ada adalah rima pengulangan kata atau ungkapan. Dan dalam rekaman, irama (tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi) sudah cukup baik untuk dapat ditangkap makna puisinya.
ü  Salah satu kata konotasi yang terdapat pada puisi di atas adalah kata “Sesobek sudut di jiwa” yang menggambarkan bisikan suara hati dari sang penyair.
ü  Kata “berjalan dalam tanya” menggambarkan makna kata lambang dari keragu-raguan atau ketidaktahuan.
ü  Unsur gaya bahasa, dan versifikasi dari uraian di atas disimpulkan sudah ada dalam penyampaian puisi tersebut. Kemudian unsur diksi kurang lebih sudah cukup baik, dan unsur tipografinya adalah dengan gaya teks rata tengah.





BAB II
SOAL URAIAN MATERI

 
1.      Unsur bentuk dalam puisi mencakup apa saja?
2.      Bagaimanakah pernyataan yang tepat mengenai tipografi puisi?
3.      Apakah maksud dari kata kongkret itu?
4.      Majas terbagi menjadi kelompok-kelompok, yaitu kelompok…
5.      Apakah fungsi dari adanya irama dalam puisi?
6.      Apakah yang dimaksud dengan kata konotasi?
7.      Apa itu kata lambang dalam puisi?
8.      Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak peri dunia yang gaib
Dan angin mendesah
Mengeluh dan mendesah

Ungkapan "hujan gerimis" pada puisi di atas melambangkan…

9.      Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, yang artinya adalah…
10.  Dibagi menjadi apasajakah imaji yang terdapat dalam puisi?



KUNCI JAWABAN


1.      Tipografi, diksi, gaya bahasa, versifikasi.

Unsur bentuk atau fisik dalam puisi ada 4, yaitutipografi (perwajahan, menonjolkan bentuk visualnya), diksi (pemilihan kata untuk membangkitkan imaji), gaya bahasa (menggambarkan suatu hal manjadi lebih menarik dan lebih hidup), dan versifikasi (bunyi dan persajakan yang bertujuan mengalirkan perasaan).


2.      Tipografi dalam puisi yaitu bentuk perwajahan pada puisi yang menjadi pembeda dengan prosa maupun drama, dan juga sebagai pembantu menentukan pemaknaan puisi.

Contoh tipografiadalah larik-larik puisi.Bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.


3.      Kata kongkret adalah kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memunculkan imaji pembaca yang melambangkan maksud dari penulis.
Kata kongkret berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju”: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, atau pun keadaan lainnya.

4.      Kelompok majas yaitu: Majas perbandingan, majas penegasan, majas pertentangan, dan majas sindiran.

Dalam puisi, majas secara garis besar dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu majas perbandingan, majas penegasan, majas pertentangan, dan majas sindiran. Yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
@ Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk membandingkan, yang termasuk majas ini diantaranya metafora, litotes, hiperbola, alusio, personifikasi dan sebagainya.
@ Majas penegasan adalah gaya bahasa yang betujuan untuk menegaskan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya adalah antiklimaks, anaphora, koreksio, dan sebagainya.
@ Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk mempertentangkan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya paradoks, antithesis, okupasi, dan sebagainya.
@ Majas sindiran adalah gaya bahasa yang bertujan untuk menyindir, yang termasuk majas ini diantaranya ironi, sinisme, dan sarkasme.


5.      Fungsi adanya irama dalam puisi adalah menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

Dapat kita bayangkan jika dalam penyampaian suatu puisi tanpa adanya irama saat pembacaannya, puisi akan terasa hambar, berlalu begitu saja dan tidak dapat tersampaikan dengan baik makna dari puisi itu sendiri. Maka irama menjadi unsur yang penting dalam suatu penyajian puisi.


6.      Kata konotasi adalah kata-kata bahasa yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau melewati maknanya yang harfiah, makamelalui penguraianmakna konotatif itu kita akan mampu menemukan bentuk-bentuk imaji / citra tertentu yang ada dalam puisi tersebut.

Makna konotatif dibentuk dengan pemakaian majas (figure of speech), yakni pemakaian kata yang memiliki makna melewati makna denotatif (harfiah).Karena makna konotatif melampaui maknanya yang lazim, maka dalam mengartikan atau memahami sebuah kata dalam puisi bisa bermacam-macam, sesuai dengan tingkat kedalamam pemahaman pembaca dalam menginteprestasikannya.


7.      Kata lambang dalam puisi yaitu kata yang menggantikan suatu hal atau suatu benda ke hal lain atau benda lain.

Ada lambang yang sifatnya lokal, kedaerahan, nasional, tetapi ada juga lambang yang sifatnya universal (berlaku untuk semua manusia).Misalnya bendera adalah lambang identitas negara (universal). Contohnya lambang warna, lambang warna artinya memberi makna warna untuk mengganti makna lain. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya.


8.      Ungkapan "hujan gerimis" dalam puisi tersebut melambangkan suasana sedih (duka) penyair.

Dalam contoh bait puisi tersebut terdapat lambang suasana, yaitu “hujan gerimis”.


9.      Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.

Selain menghasilkan berbagai makna, bahasa figuratif pun dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.


10.  Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

Imaji adalah atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management